facebook icon gplus icon instagram icon

Air Terjun Tukad Cepung Tempat Turunnya Bidadari dari Kahyangan

Air Terjun Tukad Cepung merupakan tempat Bidadari turun dari kahyangan serta lokasi mereka membasuh raga yang penuh dengan noda. Itu merupakan hal yang terlintas pertama kali ketika Cerita Kaki Gatal menginjakkan kaki kecil kami di Air Terjun Tukad Cepung yang berada di tengah cerukan ibu pertiwi. Berlokasi di salah satu Kabupaten di Bali yang tidak mempunyai pantai sama sekali, yaitu Kabupaten Bangli. Berbekal GPS lokal dan manual alias bertanya-tanya dengan penduduk lokal Bangli, dalam waktu satu setengah jam dari Denpasar akhirnya Cerita Kaki Gatal tiba di lokasi parkir kendaraan Air Terjun Tukad Cepung Banjar Penida Kelod, Tembuku, Bangli. Eits jangan senang dulu, jalanan dengan anak tangga yang sedikit curam sudah menanti.

Air Terjun Tukad Cepung

Air Terjun Tukad Cepung

Sejatinya tempat Cerita Kaki Gatal memarkirkan kendaraan merupakan lahan Pura Dalem. Setelah menyelesaikan administrasi dengan bapak juru parkir yang ramah aduhai, mulailah Cerita Kaki Gatal melangkahkan kaki menyusuri tepian Pura Dalem menuju loket karcis. Tiket masuknya dibilang mahal, ya nggak mahal kok, dibilang murah, juga ndak murah sich. Alias seikhlasnya. Jalan turun dari loket menuju tangga pertama sudah disemen mulus, walaupun ndak semulus pantat bayi sich ya… Selain pantat bayi, apa lagi ya yang mulus? #eh

Ketika menginjakkan kaki di tangga pertama, sudah terbayang siksaan tangga ke paha dan betis yang sudah mulai agak berotot karena naik turun tangga di Air Terjun Tegenungan. Tiba-tiba jadi malu melihat bapak-bapak tua dengan menjunjung karung naik dari bawah tangga dengan entengnya, sumpah malunya pake bingit. Selagi menahan malu, tiba-tiba dikejutkan oleh anak-anak kecil dari belakang yang dengan santai mendahului Cerita Kaki Gatal menuruni tangga dengan santainya. Cerita Kaki Gatal menjadi tertohok… #dzingggg….

Bapak tua menjunjung karung menuju keatas dari bawah

Bapak tua menjunjung karung menuju keatas dari bawah

Anak-anak kecil menuruni tangga menuju Air Terjun Tukad Cepung

Anak-anak kecil menuruni tangga menuju Air Terjun Tukad Cepung

Jangan khawatir kesasar karena petunjuk sudah disediakan oleh pengelola, disamping itu diingatkan untuk tidak membuang sampah sembarangan. Tempat sampah berwarna hijau dan merah siap sedia untuk menampung sampah masyarakat, eh maksudnya sampah yang dihasilkan masyarakat yang berkunjung ke Air Terjun Tukad Cepung.

Penunjuk jalan menuju air terjun

Penunjuk jalan menuju air terjun

Tong sampah disepanjang jalan menuju air terjun

Tong sampah disepanjang jalan menuju air terjun

Suasana segar dikarenakan warna hijau pepohonan ada di kiri dan kanan Cerita Kaki Gatal. Tapi sangat disayangkan warna hijau dirusak oleh warna biru terpal yang dipakai sebagai atap warung di jalan menuju Air Terjun Tukad Cepung. Kenapa mereka tidak menggunakan bahan ramah lingkungan untuk bahan atap warung mereka. Tapi ah sudahlah, mari kita memfokuskan ke tujuan kita yang sebenarnya, Air Terjun Tukad Cepung.

Dedaunan hijau sepanjang jalan

Dedaunan hijau sepanjang jalan

Dedaunan hijau sepanjang jalan menuju Tukad Cepung

Dedaunan hijau sepanjang jalan menuju Tukad Cepung

Pohon Kelapa dan bunga Kembang Sepatu di jalan menuju air terjun

Pohon Kelapa dan bunga Kembang Sepatu di jalan menuju air terjun

Menuruni tangga sambil menahan tas yang menggelayuti punggung Cerita Kaki Gatal, terlihatlah dam kecil yang kami sangka disebelahnya merupakan Air Terjun Tukad Cepung. Ternyata Cerita Kaki Gatal salah, kita masih harus menyusuri aliran dari dam kecil tersebut.

Dam kecil sebelum air terjun

Dam kecil sebelum air terjun

Ditengah suara aliran air yang mengalir, Cerita Kaki Gatal tertegun melihat betapa beningnya air yang mengalir dari dam itu, dasar dari penyaluran air itu terlihat dengan jelasnya. Cerita Kaki Gatal tertarik untuk menceburkan diri tapi teringat dengan satu-satunya baju yang menempel dibadan, diurungkanlah niat bersuka ria dengan air sebening kristal itu. Melangkah gontai menahan godaan untuk menceburkan diri ke air, terlihat beberapa balok kayu yang sengaja ditaruh pengelola sebagai tempat untuk pengunjung duduk melamun ditengah suara aliran air. Ngelamunnya jangan yang jorok ya, tapi diharapkan super jorok biar bisa nanti dibersihkan dengan aliran air #eh

Aliran air dari dam

Aliran air dari dam

Batang pohon yang digunakan sebagai tempat duduk

Batang pohon yang digunakan sebagai tempat duduk

Godaan untuk main air semakin menguat setelah beberapa langkah Cerita Kaki Gatal bertemu dengan bagian aliran air yang sedikit dibendung sehingga mirip dengan kolam kecil. Disana sudah ada anak-anak kecil yang bercanda menikmati kebeningan air dan kelihatannya airnya segar pake bingit. Cerita Kaki Gatal Hanya bisa menelan ludah saja. Bagi yang mau bercengkrama dengan kebeningan air, diharapkan jangan telanjang ya, pakailah pakaian dalam atau sesuatu yang menutupi “property mahal” kita sahabat. Cerita Kaki Gatal bakalan balik lagi khusus untuk menikmati kebeningan dan kesegaran air ini.

Tempat menceburkan diri warga sekitar AIr Terjun Tukad Cepung

Tempat menceburkan diri warga sekitar AIr Terjun Tukad Cepung

Himbauan agar mengenakan pakaian dalam ketika menceburkan diri

Himbauan agar mengenakan pakaian dalam ketika menceburkan diri

Sambil menoleh kebelakang dengan tidak rela, Cerita Kaki Gatal melangkah gontai menuju Air Terjun Tukad Cepung. Melewati semacam jembatan kecil yang melewati bagian atas air terjun, tapi dari sana Cerita Kaki Gatal tidak bisa melihat ke arah air terjun karena celahnya sempit dan tertutup tumbuhan.

Jalan menuju Tukad Cepung

Jalan menuju Tukad Cepung

Jembatan kecil diatas air terjun

Jembatan kecil diatas air terjun

Anak tangga tanah yang mengular kebawah sudah menunggu Cerita Kaki Gatal menjejakkan kaki sebelum menyusuri cekungan menuju Air Terjun Tukad Cepung. Terlihat pemangku (orang suci agama Hindu) melintas keatas, dengan usia yang tidak terbilang muda, beliau dengan mudahnya menaiki tangga tanah. Setelah mengucapkan Om Swastyastu kepada beliau, dengan bersemangat Cerita Kaki Gatal melompat turun ke tangga tanah sambil menjaga keseimbangan badan. Tangga tanah ini ditahan oleh batang-batang bambu yang diletakkan sejajar ditanah. Dipastikan licin ketika hujan mengguyur.

Pemangku yang melintas

Pemangku yang melintas

Undakan menurun menuju Air Terjun Tukad Cepung

Undakan menurun menuju Air Terjun Tukad Cepung

Sesampainya di bawah, di sebelah kiri terlihat sumber air yang biasa digunakan oleh penduduk sekitar untuk mensucikan diri mereka. Cerita Kaki Gatal berbelok ke kanan menyusuri cekungan menuju Air Terjun ditemani tetes-tetes air yang menetes dari atas cekungan. Cekungan ini sekilas mirip dengan Hidden Canyon Guwang, tebing tinggi yang terkikis aliran air dengan air mengalir diantara kaki Cerita Kaki Gatal.

Mata air suci yang digunakan warga untuk penyucian diri

Mata air suci yang digunakan warga untuk penyucian diri

Beberapa langkah ke depan, Cerita Kaki Gatal terkejut karena langkah kami terhalang oleh batuan besar. Cerita Kaki Gatal berfikir apakah kami salah jalan? Padahal suara deburan air terdengar jelas dari balik batu besar tersebut. Cerita Kaki Gatal berusaha berjalan memutar kearah kiri berupaya melewati Batuan besar itu, tapi ternyata buntu. Tidak patah semangat, Cerita Kaki Gatal memutar lewat bagian kanan. Ternyata di bagian kanan batuan ada celah sempit yang bisa kami lewati. Benar-benar sempit, sampai Cerita Kaki Gatal harus melepaskan tas yang bergelayutan dipunggung untuk bisa melewati celah sempit ini.

Batu besar yang menghalangi jalan

Batu besar yang menghalangi jalan

Celah sempit menuju air terjun

Celah sempit menuju air terjun

Sahabat Cerita Kaki Gatal narsis dibalik celah sempit

Sahabat Cerita Kaki Gatal narsis dibalik celah sempit

Cerita Kaki Gatal melewati celah sempit

Cerita Kaki Gatal melewati celah sempit

Suara deburan air tambah jelas terdengar begitu melewati celah sempit itu, seperti pintu eliminasi. Akar pohon pun tidak mau kalah berjuntaian diantara cekungan. Sedikit berlari kecil melewati batuan besar lagi, Cerita Kaki Gatal terkesima melihat Air Terjun Tukad Cepung. Terletak ditengah cekungan ibu pertiwi dengan bagian atas yang sedikit terbuka, air berderu melompat turun menimbulkan cipratan yang bisa membuat kita basah apabila terlalu dekat. Menurut penduduk setempat, jikalau pagi sinar mentari pagi akan masuk melalui celah atas cekungan yang menimbulkan sinar yang mirip dengan sinar turunnya bidadari dari kahyangan. Huzzzzz jangan ngelamun, yuk kita maen air saja atau mandi juga bisa. Rasa dingin tapi segar menjalar ketika mencelupkan jemari kaki di dasar Air Terjun Tukad Cepung. Brrrrr……

Bagian atas cekungan yang menghijau

Bagian atas cekungan yang menghijau

Juluran akar pohon

Juluran akar pohon

Aliran air dari Air Terjun Tukad Cepung

Aliran air dari Air Terjun Tukad Cepung

Penduduk sekitar pun masih ada yang mandi di Air Terjun Tukad Cepung. Jangan-jangan mereka titisan para bidadari dari kahyangan ya? Hanya dengan memakai kain, mereka membasuh diri dibawah deburan air yang tercurah dari atas. Dasar air terjun sendiri tidak terlalu dalam, sedikit berpasir dengan batuan-batuan kecil Suasana di dalam cekungan tempat Air Terjun Tukad Cepung sendiri sedikit agak gelap, dikarenakan minimnya cahaya yang masuk kedalam cekungan. Gelap-gelapan yang menggoda, setelahnya terserah anda #eh Dinding bagian kanan berwarna agak kekuningan, sepertinya ada unsur belerang yang meleleh dari dalam dinding

Warga sekitar yang membasuh diri di Air Terjun Tukad Cepung

Warga sekitar yang membasuh diri di Air Terjun Tukad Cepung

Seorang bidadari tengah membasuh badan di bawah guyuran air

Seorang bidadari tengah membasuh badan di bawah guyuran air

Cerita Kaki Gatal pun tidak lupa untuk bernarsis ria di Air Terjun Tukad Cepung. Dari photo lompat sampai photo merentangkan tangan dilanjutkan dengan bernarsis ria diatas batu besar yang tertutup lumut. Agak sulit memang naik ke batuan besar yang penuh dengan lumut. Selicin lendir siput. Photo yang belum dilakukan cuma jungkir balik aja. Hahahahha

Sahabat Cerita Kaki Gatal bernarsis ria

Sahabat Cerita Kaki Gatal bernarsis ria

Narsis dibawah guyuran air terjun

Narsis dibawah guyuran air terjun

Narsis diatas batu besar

Narsis diatas batu besar

Batu besar yang penuh dengan lumut

Batu besar yang penuh dengan lumut

Tidak terasa baju sudah mulai basah terkena percikan air yang tercurah dari atas Air Terjun Tukad Cepung karena keasyikan berpose jadi model. Dengan langkah berat Cerita Kaki Gatal mulai melangkahkan kaki meninggalkan cekungan Air Terjun Tukad Cepung. Belum puas rasanya untuk menikmati cekungan tempat turunnya para bidadari. Kami kembali menyelinap diantara celah kecil untuk menuju ke undakan tanah yang siap menghajar betis dan paha kami. Didasar undakan kami melihat pancuran kecil yang jernih. Dengan menghela nafas panjang, Cerita Kaki Gatal menapakkan kaki kembali di undakan menuju keatas.

Perlahan kami melangkah keatas sambil paru-paru kami berusaha menghirup oksigen lebih banyak. Seiring kami melangkah, Cerita Kaki Gatal berpapasan dengan rekan traveler yang ingin mengunjungi Air Terjun Tukad Cepung. Disaluran air yang jernih pun semakin banyak yang menceburkan diri, dari anak-anak sampe orang dewasa.
Setelah bertemu dengan dam kecil, saatnya paha dan betis untuk berolahraga kembali, ngos-ngosan mulai menapaki tangga beton menuju tempat kami memarkir kendaraan kami. Sampai jumpa lagi Air Terjun Tukad Cepung, semoga kunjungan berikutnya kami bisa bertemu dengan bidadari yang turun dari kahyangan.

Perjalanan pulang dengan menaiki siksaan tangga

Perjalanan pulang dengan menaiki siksaan tangga

 

Photo : Eka dan sahabat Cerita Kaki Gatal Oka

What do you think?

Name required

Website