facebook icon gplus icon instagram icon

Laklak Biu Penebel Berani Tampil Beda

Laklak Biu Penebel adalah Laklak khas daerah Penebel Bali dengan isian pisang dan ukurannya lebih besar dibandingkan dengan Laklak lainnya di Bali. Bagi sahabat Cerita Kaki Gatal mungkin bingung dengan nama makanan khas Penebel Bali ini. Laklak terbuat dari tepung yang dicampur dengan air dan dicampur dengan bahan rahasia dari penjual. Bisa dibilang mirip dengan serabi ataupun crepes.  Sedangkan Biu itu adalah Pisang. Nah sudah terbayang kan Laklak Biu itu seperti apa?

Laklak Biu Penebel ditemani kopi hitam panas

Laklak Biu Penebel ditemani kopi hitam panas

Men Bayu,orang dibalik kenikmatan Laklak Biu

Men Bayu,orang dibalik kenikmatan Laklak Biu

Cerita Kaki Gatal sedang berkendara dari jalan-jalan ke Air Terjun Yeh Hoo di area Jatiluwih yang merupakan salah satu cagar budaya dunia. Menembus cuaca Bali yang sedang tidak menentu, disergaplah Cerita Kaki Gatal oleh hujan. Menembus hujan pun agaknya bukan keputusan yang tepat. Berteduhlah kami di sebuah toko didaerah Penebel dekat dengan pohon beringin besar. Mata kami tertumbuk sebuah bangunan kecil dengan bau yang menggoda selera. Cacing diperut langsung berontak karena kami pun belum makan siang. Berlari menyeberang jalan dibawah guyuran hujan menuju penjual Laklak Biu

Warung sederhana dari penjual Laklak Biu

Warung sederhana dari penjual Laklak Biu

Disambut dengan senyum ramah, kami memesan dan duduk bersempit-sempit ria di warung yang tidak begitu luas ditingkahi gemericik bunyi hujan. Sang penjual mengenalkan dirinya sebagai Men Bayu (Men itu dalam bahasa Bali berarti Ibu). Dibantu dengan suaminya beliau berjualan Laklak Biu dari jam 7 pagi sampai jam 8 malam. Lokasinya warungnya sekitar setengah kilo dari Pasar Umum Penebel, Kabupaten Tabanan, Bali ke utara, patokannya ada pohon besar semacam pohon Beringin di kanan jalan, Laklak Biu Men Bayu berada disebelah kiri.

Laklak Biu Penebel ini mereka buat ketika pelanggan datang dan memesan. Sehingga laklak biu selalu disajikan hangat. Laklak di Bali biasanya berbahan tepung dan ukurannya kecil kecil. Serta ditaburi parutan kelapa serta dituangi gula merah. Akan tetapi Laklak Biunya Men Bayu selain berbahan tepung, juga ada isian pisang, ukurannya lebih besar, lebih tipis serta taburan kelapanya ditaruh berbarengan ketika memasak. Suami Men Bayu dengan setianya membantu memarut kelapa untuk ditaburkan diatas Laklak Biu ketika pemasakan. So sweet…! Pisang yang digunakan juga tidak sembarang pisang,. Pemasakan menggunakan alas dari tanah liat serta menggunakan tungku yang berbahan bakar kayu bakar, menjamin rasanya benar-benar rasa tradisional.

Laklak yang biasa kita temui di Bali, ukurannya kecil dan hanya ditaburin kelapa dan gula merah

Laklak yang biasa kita temui di Bali, ukurannya kecil dan hanya ditaburin kelapa dan gula merah

Pisang yang digunakan untuk Laklak Biu

Pisang yang digunakan untuk Laklak Biu

Laklak Biu dengan pisang dan parutan kelapa ketika dimasak

Laklak Biu dengan pisang dan parutan kelapa ketika dimasak

Suami Men Bayu yang sedang memarut kelapa

Suami Men Bayu yang sedang memarut kelapa

Tungku kayu bakar dengan bahan tanah liat yang digunakan Men Bayu

Tungku kayu bakar dengan bahan tanah liat yang digunakan Men Bayu

Pemasakan berlangsung dengan cara yang sederhana, pertama-tama Men Bayu menghidupkan tungku dengan cara tradisional serta memanaskan alas tanah liat yang terbuat dari tanah liat. Dilanjutkan dengan menuang adonan serta diratakan. Dilanjutkan dengan menaruh pisang yang sudah dipotong serta parutan kelapa. Kemudian ditutup dengan tutup tanah liat. Sekitar satu menit kemudian, tutup tanah liat dibuka ditingkahi kepulan uap dari Laklak Biu. Dengan peralatan yang pipih, Laklak Biu dilipat menjadi setengah lingkaran dan siap dihidangkan. Bagi pelanggan yang berkeinginan membawa Laklak Biu pulang untuk orang-orang tercinta dirumah, bisa Ibu, Bapak, saudara, pacar, pacar orang orang lain #ups , maka Laklak Biu akan diberikan alas daun Pisang kemudian dimasukkan ke dalam tas plastik.

Men Bayu sedang menyalakan api di tungku

Men Bayu sedang menyalakan api di tungku

Api tungku sudah menyala dengan bara kemerahan

Api tungku sudah menyala dengan bara kemerahan

Men Bayu sedang mengaduk adonan tepung

Men Bayu sedang mengaduk adonan tepung

Men Bayu menuangkan adonan ke atas tungku

Men Bayu menuangkan adonan ke atas tungku

Menaburkan pisang diatas adonan yang sudah diratakan

Menaburkan pisang diatas adonan yang sudah diratakan

Pisang ditaburkan diatas adonan

Pisang ditaburkan diatas adonan

Parutan Kelapa ditambahkan diatas pisang

Parutan Kelapa ditambahkan diatas pisang

Membuka penutup ketika Laklak Biu sudah matang

Membuka penutup ketika Laklak Biu sudah matang

Laklak Biu siap untuk dilipat

Laklak Biu siap untuk dilipat

Men Bayu sedang melipat Laklak Biu

Men Bayu sedang melipat Laklak Biu

Laklak Biu yang sudah matang

Laklak Biu yang sudah matang

Suami Men Bayu sedang memasukkan Laklak Biu pesanan pelanggan ke tas plastik

Suami Men Bayu sedang memasukkan Laklak Biu pesanan pelanggan ke tas plastik

Sambil menunggu Laklak Biunya matang, Cerita Kaki Gatal iseng bertanya gimana ceritanya beliau bisa punya ide untuk berjualan Laklak yang beda dari yang lainnya. Laklak Biu Men Bayu punya cerita yang agak sedih diawal berdirinya. Laklak Biu ini bermula dari suami MenBayu yang kehilangan mata pencaharian, sedangkan saat itu anaknya mau masuk sekolah SMP, nah disanalah anak mereka yang paling kecil mengusulkan untuk menjual Laklak dengan diisi pisang. Bermodal dengan satu tungku dan satu tandan pisang, mereka berjualan. Di hari pertama mereka berjualan, anugrah Tuhan turun, ada seorang yang baik hati yang membeli 50 laklak biu nya mereka Dari sanalah beliau merasa disinilah sumber rejekinya dan memutuskan terus berjualan laklak biu sampai sekarang. Ditambah dengan mereka rajin mengikuti pameran-pameran diseputaran tabanan maupun Denpasar

Laklak Biu pun matang dengan wangi yang menggoda, tidak lengkap rasanya tanpa dipadukan dengan kopi hitam pekat. Kopi hitam panas dan Laklak Biu hangat, sehangat kasih beliau terhadap anak-anaknya, yang mereka tularkan juga ke pelanggan dengan obrolan hangat dan ramah. Membuat pelanggan betah dan ingin kembali di lain waktu untuk makan Laklak Biu yang hangat. Sekali hap langsung Laklak Biu hangat dan lembut masuk ke mulut Cerita Kaki Gatal serta menggelitik lidah dengan manisnya pisang yang berada dalam Lakalk Biu. Satu Laklak Biu Penebel tidak akan mengeyangkan bagi perut lelaki, paling tidak dua atau tiga Laklak Biu Penebel baru akan memuaskan nafsu makan para lelaki

Laklak Biu hangat dimakan dengan teman Kopi panas ditingkahi hujan gerimis

Laklak Biu hangat dimakan dengan teman Kopi panas ditingkahi hujan gerimis

Laklak Biu Men Bayu mengikuti perkembangan jaman lho, tidak hanya rasa original yang beliau tawarkan, rasanya pun sudah berkembang dengan rasa Coklat, Strawberry, Nanas bahkan rasa Keju. Luaaaarrrrr biasa…. Sambil elus-elus perut yang kekenyangan makan Laklak

What do you think?

Name required

Website