facebook icon gplus icon instagram icon

‘Blusukan’ ke Ujung Kulon

Ujung Kulon, ketika mendengar kata Ujung Kulon, yang ada di benak saya saat itu adalah Badak. Yep, karena Ujung Kulon itu sendiri memang sudah terkenal dengan penangkaran Badak Jawanya. Jadi, gak salah kan kalo cuma kepikiran Badak, Badak dan Badak aja. Hehehe…

Tapi, semua itu berubah ketika salah satu teman saya tiba-tiba nyeletuk “kalo pengen ke pantai yang deket-deket Jakarta, mending ke Pulau Peucang aja.”

“Dimana itu? Anyer?” tanyaku balik. Harap maklum, sebagai orang yang tinggal di Jakarta, ketika ada orang menyebutkan pantai, otomatis yang teringat di otak adalah Anyer. Hahaha… Entahlah kenapa seperti itu.

“Bukan, Peucang itu di Ujung Kulon.”

“Haaaahhh?” Jawaban seorang teman sukses membuat saya terbelalak, karena tidak pernah menyangka bahwa di Ujung Kulon itu ada pantai. Eh, ada banyak malah.

Selama ini saya selalu mengira kalo di Ujung Kulon itu cuman ada taman nasional, bahkan gak pernah tau ternyata ada pantai yang masih bersih, bagus dan sangat memikat dengan gradasi airnya yang cantik. Wahhh…. Langsung penasaran lah saya!

Cantik kan gradasi air nya? ;)

Cantik kan gradasi air nya? 😉

Pencarian akan trip Ujung Kulon pun dimulai, dan akhirnya mendapatkan trip yang diinginkan seharga 775ribu, 3 hari 2 malam dengan meeting point di Plaza Semanggi. OK lah, karena sudah all in dan jelas itinerary nya, saya pun memberanikan diri untuk mendaftar. Sendiri pula. Lagian udah biasa sih sendiri *eh hahaha!

Jarak tempuh dari Plaza Semanggi ke Ujung Kulon memakan waktu sekitar 10 jam. 7 jam untuk menuju ke Dermaga Sumur dan 3 jam sisanya untuk menyebrang ke Pulau Peucang dengan kapal. Tapi, kalo ke Kalibiru gak sampe 10 jam kok. Hihihi… Buat kamu yang tinggal di Solo, Yogyakarta dan sekitarnya boleh lho mampir ke Kalibiru

Sesampai di Dermaga Sumur, kami pun langsung istirahat. Lumayan lah bisa beberapa jam tidur dan ngelurusin kaki. Sekitar jam 7 pagi, saya dan peserta trip lainnya telah bersiap untuk ke Pulau Peucang, menyebrang dengan kapal. Here we go!

Oh iya, selama beberapa jam menghabiskan waktu di Dermaga Sumur, ternyata saya dapat bonus untuk lihat pelangi dengan mata telanjang. Pelangi nya dobel pula, makin seneng deh saya! Tentunya dong, tanpa basa basi dengan sigap, saya langsung mengabadikan momen tersebut.

Indahnya duo pelangi ini

Indahnya duo pelangi ini

Kapan lagi ya kann bisa lihat pelangi secantik ini? Di Jakarta? Kemungkinan ada sih, tapi jaraaang banget. Hehehe…

Buat yang gak terlalu kuat digoyang-goyang ombak, mungkin bisa minum antimo sebelum naik ke kapal karena 3 jam di kapal bisa bikin orang entah muntah-muntah ato ngantuk. Kalo ngantuk doang sih masih mending, tapi kalo muntah-muntah pasti berasa ada ikan hiu lagi ngacak-ngacak isi perut. 😐

Saya pun terlalu fokus menikmati pemandangan yang ada di sepanjang perjalanan ke Pulau Peucang, jadi gak berasa mabok laut. Kan, kapan lagi ngerasain ‘tidur liat laut, bangun liat laut lagi?’ 😉
Menurut itinerary kami, tepat sebelum sampai di Pulau Peucang, kami dipersilahkan untuk snorkeling.

Jujur, saya gak bisa berenang dan lumayan parno sama air, apalagi di lautan luas begitu. Well, saya sih tadinya sempat nyobain beraniin diri nyemplung ke laut tapi gak sampe 5 menit naik lagi ke kapal. Duh ya, berasa nanti kaki saya bakal ada yang narik dari dalam lautan itu. Hiiiiiiyyyyy…

Sesampai di Pulau Peucang, believe it or not, se-geng saya (kebetulan nemu temen-temen yang langsung klop dan bikin geng sendiri) disambut dengan monyet-monyet usil yang hobinya ngambilin makanan orang lain. Serem sih tapi seru juga liatin mereka berebut makanan sama manusia. Huvt…

Selamat datang di Pulau Peucang!

Selamat datang di Pulau Peucang!

Saya pun udah gak sabar pengen explore pantainya. Jernih, biruuu banget dan gradasinya itu lho bikin kesengsem dan gak peduli matahari sedang hot-hot nya. Ehemmm….

Dermaga Pulau Peucang

Dermaga Pulau Peucang

Tapi, sebelum explore kami diharuskan untuk makan siang sambil menunggu pembagian kamar. Penginapan di Ujung Kulon ini beragam, tapi karena saya ingin merasakan tidur bersama hewan-hewan liar, jadi penginapan saya dan peserta lainnya berupa rumah panggung. Pada malam itu, kami semua telah ‘berbagi’ atap dengan hewan liar.

Eh, jangan kaget dulu. Maksudnya itu, saya dan peserta lainnya tidur di kamar yang telah disediakan, sedangkan hewan-hewan itu tidur di bawah rumah panggung tersebut. Jadi, jangan kaget ya kalo tiba-tiba ada suara gruduk-gruduk di bawah. Itu karena babi nya mau bobok. Hihihi!

Duo Babi yang akan berbagi atap di malam hari

Duo Babi yang akan berbagi atap di malam hari

Selesai makan siang, kami pun di beri waktu sekitar satu jam untuk mengeksplor pantai di Pulau Peucang. Eksplor di sini maksudnya berfoto-foto sepuasnya ya, bukan bermain air atau sunbathing, entah karena pada jaim atau kepanasan tapi gak ada juga yang leyeh-leyeh di pinggir pantai gitu. Huvt.

Cantiknya pantai Pulau Peucang

Cantiknya pantai Pulau Peucang

Kegiatan foto-foto cantik di pantai pun telah usai. Kami langsung bertolak ke Dermaga Cibom untuk trekking ke Tanjung Layar, yang katanya merupakan 0 KM Pulau Jawa.

Trekking di hutan, Tanjung Layar

Trekking di hutan, Tanjung Layar

Trekking di Tanjung Layar

Trekking di Tanjung Layar

Saya pikir tadinya trekking itu buat ngeliat kerumunan badak, dan ternyata cuma untuk ngerasain berada di titik 0 KM Pulau Jawa, tapi pemandangan yang saya lihat saat itu gak kalah bagusnya sih. Karang-karang bebatuan gede, padang rumput dan ada laut tersembunyi.
Meskipun, saya gak ke laut nya dan cuma duduk di rerumputan sambil nikmati suara deburan ombak, tetep aja ngerasa tenang dan adem banget. Biasa di kota dengerinnya suara klakson dan nyium bau asep, sekarang ngerasain bau rumput dan suara laut. It is definitely SO good!

Berada di titik 0 KM Pulau Jawa

Berada di titik 0 KM Pulau Jawa

Seusai dari Tanjung Layar, kami melipir sebentar ke Dermaga Cidaon hanya untuk menikmati sunset. Meskipun jam menunjukan pukul 6 sore kurang 5 menit, kami tetap bisa melihat sunset dan menikmatinya. Tangan pun dengan lancar menekan tombol di kamera a.k.a jepret-jepret sampai matahari tenggelam.

Enjoy The Sunset!

Enjoy The Sunset!

Petualangan saya gak sampe di situ aja karena hari terakhir saya di Ujung Kulon di mulai dengan ‘berburu’ banteng dan merak di Cidaon. Eiitttsss, berburu di sini maksudnya adalah melihat dan merasakan berdiri di hamparan padang rumput yang luas sambil melihat banteng dan merak. Sayangnya, di hari itu para banteng dan merak pada malu-malu, jadi kami gak melihat satupun dari mereka.

Padang Cidaon

Padang Cidaon

Yaudah, jangan sedih. Mari kita move on….
Kegiatan berikutnya adalah kanoying aka cano-ing aka rowing di Sungai Ciganter. Bersama-sama kami pun menyusuri sungai dengan mendayung perahu. Seru! Bisa rasain asiknya ngedayung, dan ternyata mendayung itu capek dan berat ya… hahaha!

 

Row-row the boat…

Row-row the boat…

Tenangnya sungai Cigenter

Tenangnya sungai Cigenter

Trip saya yang seru itu akhirnya di tutup dengan snorkeling di Pulau Badul. Seperti biasa, saya melewati kegiatan ini karena (ternyata) saya masih parno dengan lautan. Emm…. Maapkeun ya ☹

Tak terasa petualangan saya sudah berakhir. Dua hari explore Ujung Kulon membuat saya dapet banyakkkk teman baru dan pengen banget belajar buat naklukin rasa takut di air.

Anyway, buat yang belum pernah explore Ujung Kulon, kamu kuduuu banget bangeeet ke sini karena selain deket dari Jakarta (buat yang berdomisili di Jabodetabek) dan juga mata kamu akan jadi lebih terbuka, karena ternyata traveling itu gak selamanya melulu soal liburan ke luar negeri kok. ☺

What do you think?

Name required

Website